Denbejo78’s Weblog


Konfigurasi DHCP Server di Cisco Router
J Juni, 2008, 3:09 pm
Diarsipkan di bawah: Cisco

DHCP adalah suatu layanan untuk memberikan ip address ke client didalam jaringan secara otomatis, cisco router juga mendukung untuk layanan DHCP server ini, berikut cara konfigurasi dhcp pada cisco. pada configurasi tersebut DHCP akan diarahkan ke network 192.168.10.0/24.

topology :

INTERNET ———[ROUTER]———-[SWITCH]———-HOST

IP WAN = 10.8.8.45 / 24

IP LAN = 192.168.10.1 /24

TS-Router-1#configure terminal
Enter configuration commands, one per line. End with CNTL/Z.
TS-Router-1(config)#service dhcp
TS-Router-1(config)#ip dhcp pool 192.168.10.0/24
TS-Router-1(dhcp-config)#network 192.168.10.0 255.255.255.0
TS-Router-1(dhcp-config)#default-router 192.168.10.1
TS-Router-1(dhcp-config)#dns-server 202.47.78.8 202.47.78.9
TS-Router-1(dhcp-config)#exit
TS-Router-1(config)#ip dhcp excluded-address 192.168.10.1 192.168.10.10
TS-Router-1(config)#ip dhcp excluded-address 192.168.10.200 192.168.10.210
TS-Router-1(config)#^Z
TS-Router-1#



Free CCNA tutorials: Interactive CCNA course. Free training courses
J Juni, 2008, 3:02 pm
Diarsipkan di bawah: Cisco

Listed below are some interactive CCNA tutorials. Each tutorial explains the key concepts in a concise and easy-to-read language. Each course includes a pre-assessment, course map and post-assessment.

  • Subnetting
  • Layered Communication Models: OSI, TCP/IP & Cisco
  • IP Addressing Tutorial
  • Hex & Binary Tutorial

*CCNA Subnetting Tutorial (Click Here)

A short IP subnetting tutorial. Subnetting is explained with examples. Post assessment exercises after the course gives you hands on practice.By the end of this subnetting course, you should be able to:

  • Define subnet and subnet masks
  • Understand IP subnetting maths
  • Calculate Network address
  • Define private address
  • Subnet an IP network in a given scenario

*OSI & TCP-IP Tutorial (Click Here)

A short course on layered communication models including the OSI Reference Model, TCP/IP Model and the Cisco’s Three Layered Hierarchical Model. The broad course of objectives are:

  • Need for network layers
  • ISO OSI reference model & it’s 7 layers of network
  • TCP IP Model and it’s relation with 7 layer OSI model
  • Cisco 3 layer hierarchical model
  • Post assessment quiz on OSI

*IP Addressing Tutorial (Click Here)

Tutorial on understanding IP addressing. The broad course of objectives are:

  • Learn IP addressing fundamentals
  • Types of Addresses: Physical, IP & Port addresses
  • Relationship of OSI Layers and Addresses in TCP/IP
  • Special Addresses: Unicast, Multicast & Broadcast
  • Notations of IP Addressing
  • Classes of IP Addressing Explained
  • LoopBack & Private IP Address
  • Determining the Class of an Address
  • Extracting Net id and Host id
  • IP Address Decimal and Binary Conversions
  • Special Addresses
  • Sample Internet
  • IP Versions: Ipv6 and Advantages
  • DNS

*Binary & Hex Tutorial (Click Here)

Tutorial on understanding Decimal, Hex and Binary Number Systems. The broad course of objectives are:

  • Decimal Number System
  • Binary Numbers Tutorial Introduction
  • Binary Numbers and Internet
  • Convert Decimal to Binary
  • Converting Binary to Decimal
  • Similarity between Decimal and Binary Systems
  • Hexadecimal Tutorial Introduction
  • Hex to decimal conversion table
  • Hexadecimal Numbering System
  • Decimal to Hex conversion introduction
  • How to convert Decimal to Hex
  • How to convert hex to decimal
  • IP Addresses in Hexadecimal Notation


Internet Sharing : Topologi
J Juni, 2008, 2:58 pm
Diarsipkan di bawah: Cisco

JENIS-JENIS KONEKSI INTERNET

Sebelum mulai, langkah pertama tentu saja memahami koneksi Internet anda. Secara umum ada 4 karakteristik koneksi internet.

  • Koneksi fisik, misalnya ethernet, fiber-optik, modem, ADSL, wave-LAN, satelit, dan masih banyak lagi. Dari segi konfigurasi, koneksi ini cukup dilihat sebagai:
    1. Point to point: koneksi dari ISP harus masuk langsung ke SATU komputer, router atau gateway.
    2. Multipoint: koneksi dari ISP masuk dulu ke konverter/hub ethernet. Dari hub anda bisa tarik kabel ke BEBERAPA komputer.
  • Koneksi logikal. Secara gampang, subnet adalah kelas IP yang diberi ISP buat anda. Ada tiga kemungkinan:
    1. Node: Anda hanya diberi 1 IP, bisa langsung dipakai oleh satu komputer.
    2. Subnet: Anda diberi beberapa IP yang bisa langsung dipakai oleh beberapa komputer. Walau terpisah, secara logikal network anda masih satu segment dengan network ISP sehingga netmask anda ikut netmask ISP. Misalnya, anda diberi 4 IP, tapi netmask = 255.255.255.0 (buat 256 node).
    3. Segment: Anda diberi 1 IP koneksi, dan 1 (sub) segment IP. Segment anda punya netmask sendiri, misal sub segment 16 IP netmask 255.255.255.224, atau full segment kelas C 256 IP netmask 255.255.255.0. Koneksi ini harus masuk dulu ke router/gateway sebelum disebar ke beberapa komputer.

    Perhatikan bahwa koneksi logikal node dan segment biasanya pakai koneksi fisik point to point. Kalau pakai koneksi multipoint, bisa sekali tapi agak mubzir. Koneksi fisik multipoint afdol-nya berjodoh dengan koneksi logikal subnet.

  • IP external/internal. IP eksternal adalah IP yang sah dipakai untuk berkomunikasi di jaringan Internet sedunia. Sementara itu IP internal hanya boleh dipakai di Intranet. Ada tiga segment IP internal:
    1. 10.x.y.z
    2. 172.16-31.y.z
    3. 192.168.0-255.z

    Kalau tidak masuk kelompok itu, IP anda adalah eksternal. ISP yang bonafid seharusnya memberi IP eksternal. Tapi ISP yang murah meriah hanya akan memberi anda IP internal. Koneksi IP internal hanya bisa buat browsing, downloading atau chatting. Tidak bisa buat server atau main game.

  • IP dinamik/statik. Jika pakai dinamik, IP komputer anda akan diberi oleh ISP melalui DHCP, dan secara periodik akan berubah. Sebaliknya IP statik bersifat tetap, anda isikan saat mengkonfigurasi network. IP dinamik biasanya hanya untuk koneksi satu node, dial-up point-to-point.

INTERNET SHARING

Internet sharing adalah teknik untuk menambah komputer lebih banyak dari IP yang diberi ISP supaya yang pakai bisa lebih banyak. Anda cukup pasang satu gateway yang pakai satu IP dari ISP, lalu disambung ke intranet yang berisi banyak client. Semua client akan bisa akses ke Internet. Ekonomis kan ? Gambar-gambar berikut melukiskan topologi yang umum.

  • Sharing Internet satu node. Pada model ini koneksi dari ISP langsung masuk ke gateway. Koneksi ini akan memakai satu IP yang diberi oleh ISP. Dari gateway koneksi ini disebar melalui hub ke beberapa komputer client. Tiap client memakai IP internal yang anda desain sendiri.
  • Sharing Internet subnet. Kalau anda punya subnet, ambil salah satu IP dari ISP masukkan ke gateway. Dari gateway koneksi ini disebar ke beberapa komputer client di intranet pakai IP internal. Sisa IP dari ISP bisa ada pakai buat server, atau client external. Client external bisa bebas buat main game multiplayer di Internet. Client internal terbatas, tidak semua game bisa, dan perlu trik di gateway.
  • Sharing Internet segment bertumpuk. Jika anda punya segment eksternal sendiri, ada dua pilihan topologi untuk menambah segment intranet. Yang pertama model bertumpuk. Koneksi ISP masuk ke router, lalu disebar ke ekstranet yang pakai segment IP pemberian ISP. Salah satu IP dari ISP ini lalu dipakai buat gateway yang akan menyebar koneksi ke client iintranet, pakai IP internal anda sendiri.
  • Sharing Internet segment bercagak. Model kedua, koneksi ISP langsung masuk ke gateway. Dari gateway tarik dua kabel. Satu ke segment ekstranet, lainnya ke segment intranet. Model ini lebih hemat dibanding model bertumpuk, namum setting gatewaynya akan lebih ruwet.

PASANG GATEWAY

Anda lihat, beda koneksi akan membuat berbagai kembangan pada topologi yang bikin pusing. Namun lepas dari itu, pasang gateway tahap-tahapnya generik sebagai berikut:

  • Sambung koneksi ISP ke gateway, konfigurasi networknya pakai IP dari ISP.
  • Tarik kabel ethernet dari hub intranet ke gateway, konfigurasi networknya pakai IP internal pilihan anda sendiri.
  • Tarik koneksi dari hub ke beberapa komputer client intranet. Masing-masing client dikonfigurasi networknya pakai IP internal.
  • Kembali ke gateway, konfigurasi IP-masquerading di gateway.
  • Optional, di gateway anda bisa pasang DHCP server, DNS caching, filter, dan proxy server.


Penghitungan Subneting
J Juni, 2008, 2:55 pm
Diarsipkan di bawah: Cisco

Setelah anda membaca artikel Konsep Subnetting dan memahami konsep Subnetting dengan baik. Kali ini saatnya anda mempelajari teknik penghitungan subnetting. Penghitungan subnetting bisa dilakukan dengan dua cara, cara binary yang relatif lambat dan cara khusus yang lebih cepat. Pada hakekatnya semua pertanyaan tentang subnetting akan berkisar di empat masalah: Jumlah Subnet, Jumlah Host per Subnet, Blok Subnet, dan Alamat Host- Broadcast.

Penulisan IP address umumnya adalah dengan 192.168.1.2. Namun adakalanya ditulis dengan 192.168.1.2/24, apa ini artinya? Artinya bahwa IP address 192.168.1.2 dengan subnet mask 255.255.255.0. Lho kok bisa seperti itu? Ya, /24 diambil dari penghitungan bahwa 24 bit subnet mask diselubung dengan binari 1. Atau dengan kata lain, subnet masknya adalah: 11111111.11111111.11111111.00000000 (255.255.255.0). Konsep ini yang disebut dengan CIDR (Classless Inter-Domain Routing) yang diperkenalkan pertama kali tahun 1992 oleh IEFT.

Pertanyaan berikutnya adalah Subnet Mask berapa saja yang bisa digunakan untuk melakukan subnetting? Ini terjawab dengan tabel di bawah:

Subnet Mask Nilai CIDR
255.128.0.0 /9
255.192.0.0 /10
255.224.0.0 /11
255.240.0.0 /12
255.248.0.0 /13
255.252.0.0 /14
255.254.0.0 /15
255.255.0.0 /16
255.255.128.0 /17
255.255.192.0 /18
255.255.224.0 /19
Subnet Mask Nilai CIDR
255.255.240.0 /20
255.255.248.0 /21
255.255.252.0 /22
255.255.254.0 /23
255.255.255.0 /24
255.255.255.128 /25
255.255.255.192 /26
255.255.255.224 /27
255.255.255.240 /28
255.255.255.248 /29
255.255.255.252 /30

SUBNETTING PADA IP ADDRESS CLASS C

Ok, sekarang mari langsung latihan saja. Subnetting seperti apa yang terjadi dengan sebuah NETWORK ADDRESS 192.168.1.0/26 ?

Analisa: 192.168.1.0 berarti kelas C dengan Subnet Mask /26 berarti 11111111.11111111.11111111.11000000 (255.255.255.192).

Penghitungan: Seperti sudah saya sebutkan sebelumnya semua pertanyaan tentang subnetting akan berpusat di 4 hal, jumlah subnet, jumlah host per subnet, blok subnet, alamat host dan broadcast yang valid. Jadi kita selesaikan dengan urutan seperti itu:

  1. Jumlah Subnet = 2x, dimana x adalah banyaknya binari 1 pada oktet terakhir subnet mask (2 oktet terakhir untuk kelas B, dan 3 oktet terakhir untuk kelas A). Jadi Jumlah Subnet adalah 22 = 4 subnet
  2. Jumlah Host per Subnet = 2y – 2, dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada oktet terakhir subnet. Jadi jumlah host per subnet adalah 26 – 2 = 62 host
  3. Blok Subnet = 256 – 192 (nilai oktet terakhir subnet mask) = 64. Subnet berikutnya adalah 64 + 64 = 128, dan 128+64=192. Jadi total subnetnya adalah 0, 64, 128, 192.
  4. Bagaimana dengan alamat host dan broadcast yang valid? Kita langsung buat tabelnya. Sebagai catatan, host pertama adalah 1 angka setelah subnet, dan broadcast adalah 1 angka sebelum subnet berikutnya.
  5. Subnet

    192.168.1.0

    192.168.1.64

    192.168.1.128

    192.168.1.192

    Host Pertama

    192.168.1.1

    192.168.1.65

    192.168.1.129

    192.168.1.193

    Host Terakhir

    192.168.1.62

    192.168.1.126

    192.168.1.190

    192.168.1.254

    Broadcast

    192.168.1.63

    192.168.1.127

    192.168.1.191

    192.168.1.255

Kita sudah selesaikan subnetting untuk IP address Class C. Dan kita bisa melanjutkan lagi untuk subnet mask yang lain, dengan konsep dan teknik yang sama. Subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class C adalah:

Subnet Mask Nilai CIDR
255.255.255.128 /25
255.255.255.192 /26
255.255.255.224 /27
255.255.255.240 /28
255.255.255.248 /29
255.255.255.252 /30

SUBNETTING PADA IP ADDRESS CLASS B

Berikutnya kita akan mencoba melakukan subnetting untuk IP address class B. Pertama, subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class B adalah:

Subnet Mask Nilai CIDR
255.255.128.0 /17
255.255.192.0 /18
255.255.224.0 /19
255.255.240.0 /20
255.255.248.0 /21
255.255.252.0 /22
255.255.254.0 /23
Subnet Mask Nilai CIDR
255.255.255.0 /24
255.255.255.128 /25
255.255.255.192 /26
255.255.255.224 /27
255.255.255.240 /28
255.255.255.248 /29
255.255.255.252 /30

Ok, kita coba satu soal untuk Class B dengan network address 172.16.0.0/18.

Analisa: 172.16.0.0 berarti kelas B, dengan Subnet Mask /18 berarti 11111111.11111111.11000000.00000000 (255.255.192.0).

Penghitungan:

  1. Jumlah Subnet = 2x, dimana x adalah banyaknya binari 1 pada 2 oktet terakhir. Jadi Jumlah Subnet adalah 22 = 4 subnet
  2. Jumlah Host per Subnet = 2y – 2, dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu banyaknya binari 0 pada 2 oktet terakhir. Jadi jumlah host per subnet adalah 214 – 2 = 16.382 host
  3. Blok Subnet = 256 – 192 = 64. Subnet berikutnya adalah 64 + 64 = 128, dan 128+64=192. Jadi total subnetnya adalah 0, 64, 128, 192.
  4. Alamat host dan broadcast yang valid?
  5. Subnet

    172.16.0.0

    172.16.64.0

    172.16.128.0

    172.16.192.0

    Host Pertama

    172.16.0.1

    172.16.64.1

    172.16.128.1

    172.16.192.1

    Host Terakhir

    172.16.63.254

    172.16.127.254

    172.16.191.254

    172.16.255.254

    Broadcast

    172.16.63.255

    172.16.127.255

    172.16.191.255

    172.16..255.255

Masih bingung? Ok kita coba satu lagi untuk Class B.Bagaimana dengan network address 172.16.0.0/25.

Analisa: 172.16.0.0 berarti kelas B, dengan Subnet Mask /25 berarti 11111111.11111111.11111111.10000000 (255.255.255.128).

Penghitungan:

  1. Jumlah Subnet = 29 = 512 subnet
  2. Jumlah Host per Subnet = 27 – 2 = 126 host
  3. Blok Subnet = 256 – 128 = 128.
  4. Alamat host dan broadcast yang valid?

Subnet

172.16.0.0 172.16.0.128 172.16.1.0 172.16.255.128
Host Pertama 172.16.0.1 172.16.0.129 172.16.1.1 172.16.255.129
Host Terakhir 172.16.0.126 172.16.0.254 172.16.1.126 172.16.255.254
Broadcast 172.16.0.127 172.16.0.255 172.16.1.127 172.16.255.255

Masih bingung juga? Ok sebelum masuk ke Class A, coba ulangi lagi dari Class C, dan baca pelan-pelan

SUBNETTING PADA IP ADDRESS CLASS A

Kalau sudah mantab dan paham, kita lanjut ke Class A. Konsepnya semua sama saja. Perbedaannya adalah di OKTET mana kita mainkan blok subnet. Kalau Class C di oktet ke 4 (terakhir), kelas B di Oktet 3 dan 4 (2 oktet terakhir), kalau Class A di oktet 2, 3 dan 4 (3 oktet terakhir). Kemudian subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class A adalah semua subnet mask dari CIDR /8 sampai /30.

Kita coba latihan untuk network address 10.0.0.0/16.

Analisa: 10.0.0.0 berarti kelas A, dengan Subnet Mask /16 berarti 11111111.11111111.00000000.00000000 (255.255.0.0).

Penghitungan:

  1. Jumlah Subnet = 28 = 256 subnet
  2. Jumlah Host per Subnet = 216 – 2 = 65534 host
  3. Blok Subnet = 256 – 255 = 1. Jadi subnet lengkapnya: 0,1,2,3,4, etc.
  4. Alamat host dan broadcast yang valid?

Subnet

10.0.0.0 10.1.0.0 10.254.0.0 10.255.0.0
Host Pertama 10.0.0.1 10.1.0.1 10.254.0.1 10.255.0.1
Host Terakhir 10.0.255.254 10.1.255.254 10.254.255.254 10.255.255.254
Broadcast 10.0.255.255 10.1.255.255 10.254.255.255 10.255.255.255

Mudah-mudahan sudah setelah anda membaca paragraf terakhir ini, anda sudah memahami penghitungan subnetting dengan baik. Kalaupun belum paham juga, anda ulangi terus artikel ini pelan-pelan dari atas. Untuk teknik hapalan subnetting yang lebih cepat, tunggu di artikel berikutnya

Catatan: Semua penghitungan subnet diatas berasumsikan bahwa IP Subnet-Zeroes (dan IP Subnet-Ones) dihitung secara default. Buku versi terbaru Todd Lamle dan juga CCNA setelah 2005 sudah mengakomodasi masalah IP Subnet-Zeroes (dan IP Subnet-Ones) ini. CCNA pre-2005 tidak memasukkannya secara default (meskipun di kenyataan kita bisa mengaktifkannya dengan command ip subnet-zeroes), sehingga mungkin dalam beberapa buku tentang CCNA serta soal-soal test CNAP, anda masih menemukan rumus penghitungan Jumlah Subnet = 2x – 2

REFERENSI

  1. Todd Lamle, CCNA Study Guide 5th Edition, Sybex, 2005.
  2. Module CCNA 1 Chapter 9-10, Cisco Networking Academy Program (CNAP), Cisco Systems.
  3. Hendra Wijaya, Cisco Router, Elex Media Komputindo, 2004.


ICND1 VIdeo Training
J Juni, 2008, 2:06 pm
Diarsipkan di bawah: Cisco

ICND1 VIdeo Training

Akhirnya setelah 5 tahun, CBTNuggets ngeluarin seri terbaru Video Training Cisco. Bagi yang kebelet pengen download CBTNuggets Cisco CCNA/CCENT – Exam-Pack 640-822: ICND1 silakan di

hxxp://mihd.net/6sxyu5
hxxp://mihd.net/2xbu1z
hxxp://mihd.net/fkuryb
hxxp://mihd.net/67rs3e
hxxp://mihd.net/52aj9k
hxxp://mihd.net/dzjh6x
hxxp://mihd.net/1orelg
hxxp://mihd.net/34t28r

Buat buku ICND1 dan ICND2, download aja di

hxxp://rapidshare.com/files/54630195/Cisco_Press_ICND1.rar
hxxp://rapidshare.com/files/54636549/Cisco_Press_ICND2.rar

Cat: Ganti hxxp jadi http



NAT (Network Address Translation) pada Router MikroTik
J Juni, 2008, 2:05 pm
Diarsipkan di bawah: Cisco

Belajar Mikrotik akhir-akhir ini menjadi salah satu kesibukan liburan semester saya. Disamping ingin memenuhi salah satu target saya ditahun 2008, ketertarikan saya untuk belajar Mikrotik juga didasari adanya permintaan teman untuk membantunya dalam proses skripsinya. Target awal nggak muluk-muluk deh, cukup sharing internet (NAT), selanjutnya ingin saya lanjutkan dengan load balancing, yang rencananya akan dibuat bahan skripsi Anyikku.

Pertama, kita perlu sedikit bahas dulu apa itu NAT? terus apa kegunaan dari NAT itu sendiri?
NAT kependekan dari (Network Address Translation), berfungsi untuk menerjemahkan atau mentranslasikan IP address Private ke IP address Public. Kenapa harus di translasikan ke IP Public?
Kita tahu, ada dua jenis IP address yaitu IP Private dan IP Public. IP yang di kenal oleh
internet atau yang bisa berinternet adalah IP Public. Kalo hanya ada satu IP Public tapi ada banyak PC yang ingin terkoneksi internet, bagaimana solusinya? Maka dari itu NAT dibutuhkan. Misal kita mempunyai konfigurasi jaringan sbb:

jaringanku

IP Private dan IP Public di atas hanya sebagai contoh, sesuaikan dengan IP Anda.

Keterangan Skema :
- PC Router Mikrotik dengan 2 ethernet card yaitu (publik) dan (local)
- Switch/Hub
- 3 PC sebagai Client masing-masing memiliki 1 ethernet card

Alokasi IP Address
PC Router Mikrotik
Ket:
eth0 = ethernet card 1 (Publik)
IP Address : 202.159.xx.xxx
Netmask : 255.255.255.252
Gateway : 202.159.xx.xxx
DNS 1/2 : 202.159.xx.x/202.159.xx.x
eth1 = ethernet card 2 (Local)
IP Address : 192.168.0.30/27
Gateway : 202.159.xx.xxx (gateway ISP)

PC Client
Client 1 – Client n, IP Address : 192.168.0.n …. n (1-30)
Contoh:
Client 1
IP Address : 192.168.0.1/27
Gateway : 192.168.0.30 (ke PC Router Mikrotik)
Client 2
IP Address : 192.168.0.2/27
Gateway : 192.168.0.30 (ke PC Router Mikrotik)
Client 3
IP Address : 192.168.0.3/27
Gateway : 192.168.0.30 (ke PC Router Mikrotik)

Ini Ada Sedikit Catatan :
Bahwa angka dibelakang IP Address, (/27) sama dengan nilai netmasknya. Untuk angka (/27) nilai netmasknya sama dengan (255.255.255.224). Sedangkan netmask yang Saya dapat dari ISP (255.255.255.252) nilainya sama dengan (/30).
Untuk SubNetmask blok IP Address kelas C, selengkapnya dapat dijelaskan sebagai berikut :

———————————-
Subnetmask kelas C
———————————-
255.255.255.0 = 24 -> 254 mesin
255.255.255.128 = 25 -> 128 mesin
255.255.255.192 = 26 -> 64 mesin
255.255.255.224 = 27 -> 32 mesin
255.255.255.240 = 28 -> 16 mesin
255.255.255.248 = 29 -> 8 mesin
255.255.255.252 = 30 -> 4 mesin
255.255.255.254 = 31 -> 2 mesin
255.255.255.255 = 32 -> 1 mesin
———————————-

Sebelum Anda melakukan installasi, jangan lupa Anda memilih Paket Mikrotik yang Anda butuhkan nantinya. Sesuaikan dengan kebutuhan Anda.
Proses installasi mikrotik tidak memakan waktu yang lama, sesuai dengan banyaknya paket yang akan anda install, normalnya tidak sampai 15 menit jika lebih berarti kemungkinan gagal, ulangi dari awal. Setelah proses installasi selesai maka kita akan diminta untuk merestart system, tekan enter untuk merestart system.

Setelah proses instalasi selesai, maka akan muncul menu login dalam modus
terminal, kondisi sistem saat ini dalam keadaan default.
Mikrotik login = admin
Password = (kosong, langsung tekan enter saja)

Setelah login, cek kondisi interface atau ethernet card.

Melihat kondisi interface pada Mikrotik Router
[admin@Mikrotik] > interface print
Flags: X – disabled, D – dynamic, R – running
# NAME TYPE RX-RATE TX-RATE MTU
0 R ether1 ether 0 0 1500
1 R ether2 ether 0 0 1500
[admin@Mikrotik]>

Jika interfacenya ada tanda X yang berarti (disabled) setelah nomor (0,1), maka periksa lagi etherned cardnya, seharusnya R yang berarti(running).

Setting IP Address, Gateway, Masqureade dan Name Server
Bentuk Perintah konfigurasi
Misalkan ether1 akan kita gunakan untuk koneksi ke Internet dengan IP 202.159.xx.xxx dan Local akan kita gunakan untuk network LAN kita dengan IP 192.168.0.30 (Lihat topologi dan konfigurasi di atas.

[admin@Mikrotik] > ip address add address=202.159.xx.xxx netmask=255.255.255.252 interface=ether1
[admin@Mikrotik] > ip address add address=192.168.0.30 netmask=255.255.255.224 interface=ether2

Melihat konfigurasi IP address yang sudah kita berikan
[admin@Mikrotik] >ip address print

Gateway
Bentuk Perintah Konfigurasi
Memberikan default Gateway, diasumsikan gateway untuk koneksi internet yang diperoleh dari ISP adalah 202.159.xx.xxx

[admin@Mikrotik] > /ip route add gateway=202.159.xx.xxx

Melihat Tabel routing pada Mikrotik Routers
[admin@Mikrotik] > ip route print

Tes Ping ke Gateway untuk memastikan konfigurasi sudah benar
[admin@Mikrotik] > ping 202.159.xx.xxx
202.159.xx.xxx 64 byte ping: ttl=64 time<1 ms
202.159.xx.xxx 64 byte ping: ttl=64 time<1 ms
2 packets transmitted, 2 packets received, 0% packet loss
round-trip min/avg/max = 0/0.0/0 ms

NAT (Network Address Translation)
Bentuk Perintah Konfigurasi
ip firewall nat add chain=srcnat action=masquerade out-inteface={Ethernet yang langsung terhubung ke Internet atau Public}
Setup Masquerading, Jika Mikrotik akan kita pergunakan sebagai gateway server maka agar client komputer pada network dapat terkoneksi ke internet perlu kita masquerading.

[admin@Mikrotik] > ip firewall nat add chain=srcnat out-interface=ether1 action=masquerade

Melihat konfigurasi Masquerading
[admin@Mikrotik] ip firewall nat print
Flags: X – disabled, I – invalid, D – dynamic
0 chain=srcnat out-interface=Public action=masquerade

Name server
Bentuk Perintah Konfigurasi
ip dns set primary-dns={dns pertama} secondary-dns={dns ke dua}
Setup DNS pada Mikrotik Routers, misalkan DNS dengan Ip Addressnya Primary = 202.159.xx.x, Secondary = 202.159.xx.x
Sebenarnya kita sudah cukup menggunakan Primary DNS nya saja. Tetapi jika Anda ingin menggunakan keduanya, tidak masalah.

[admin@Mikrotik] > ip dns set primary-dns=202.159.xx.x allow-remote-requests=yes
[admin@Mikrotik] > ip dns set secondary-dns=202.159.xx.x allow-remote-requests=yes

Melihat konfigurasi DNS
[admin@Mikrotik] > ip dns print
primary-dns: 202.159.xx.x
secondary-dns: 202.159.xx.x
allow-remote-requests: no
cache-size: 2048KiB
cache-max-ttl: 1w
cache-used: 16KiB

Tes untuk akses domain, misalnya dengan ping nama domain
[admin@Mikrotik] > ping google.com

Jika sudah berhasil reply berarti seting DNS sudah benar.
Setelah langkah ini bisa dilakukan pemeriksaan untuk koneksi dari jaringan local bisa kita mulai.

DHCP Server
DHCP merupakan singkatan dari Dynamic Host Configuration Protocol, yaitu suatu program yang memungkinkan pengaturan IP Address di dalam sebuah jaringan dilakukan terpusat di server, sehingga PC Client tidak perlu melakukan konfigurasi IP Addres secara manual.
untuk melakukan pengalamatan ip address untuk client.
Bentuk perintah konfigurasi
ip dhcp-server setup
dhcp server interface = { interface yang digunakan }
dhcp server space = { network yang akan di dhcp }
gateway for dhcp network = { ip gateway }
address to give out = { range ip address }
dns servers = { name server }
lease time = { waktu sewa yang diberikan }
Jika kita menginginkan client mendapatkan IP address secara otomatis maka perlu kita setup dhcp server pada Mikrotik. Berikut langkah-langkahnya :

Menambahkan IP address pool
[admin@Mikrotik] > /ip pool add name=dhcp-pool ranges=192.168.0.1-192.168.0.30

Menambahkan DHCP Network dan gatewaynya yang akan didistribusikan ke client
Pada contoh ini networknya adalah 192.168.0.0/27 dan gatewaynya 192.168.0.30
[admin@Mikrotik] > /ip dhcp-server network add address=192.168.0.0/27 gateway=192.168.0.30 dns-server=192.168.0.30

Tambahkan DHCP Server ( pada contoh ini dhcp diterapkan pada interface Local )
[admin@Mikrotik] > /ip dhcp-server add interface=ether2 address-pool=dhcp-pool

Melihat status DHCP server
[admin@Mikrotik] > ip dhcp-server print
Flags: X – disabled, I – invalid
# NAME INTERFACE RELAY ADDRESS-POOL LEASE-TIME ADD-ARP
0 dhcp1 ether2

Oiya, perlu saya ingatkan, Jika yang muncul adalah Tanda X yang menyatakan bahwa DHCP server belum enable maka perlu kita enablekan terlebih dahulu. Tetapi jika keluar sesuai dengan contoh di atas berarti otomatis DHCP nya sudah aktif.

Enable dhcp server
[admin@Mikrotik] > /ip dhcp-server enable 0
Kemudian untuk memastikannya cek kembali dhcp-servernya dengan melihat status DHCP servernya, jika tanda X sudah tidak ada berarti sudah aktif.

Tes Dari client (apakah sudah mendapatkan IP, kalo sudah coba juga untuk browsing)
Dengan perintah :
C:>ipconfig
C:>ping www.rickymedia.wordpress.com

Selamat Mencoba, semoga membantu.